Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) hari ini meluncurkan Jurnal ISLAMIA edisi Koran. Jurnal ini adalah hasil dari bekerjasama dengan Harian Republika.
Jurnal ISLAMIA akan terbit tiap Kamis tiap bulan di minggu kedua. Untuk edisi ini, dibahas panjang lebar tentang “Islamisasi Ilmu”. Diantaranya dibahas tokoh penggagasnya, kritik terhadap gagasan ‘islamisasi ilmu’ dan dampak yang terjadi bila Islam dihilangkan dalam dunia ilmu.
Selain itu juga dilengkapi dengan kajian buku, sosok ilmuwan teladan dan kolom miskat (cahaya) yang ditulis oleh Direktur INSISTS, Dr. Hamid Fahmi Zarkasi. Duduk sebagai dewan redaksi; Dr. Hamid Zarkasi, Dr. Syamsuddin Arif, Adian Husaini, Adnin Armas, Nirwan Syafrin, Nuim Hidayat, Henry Salahuddin, Budi Handriyanto dan Tiar Anwar Bahtiar.
Dalam tulisannya perdana berjudul “Islami Ilmu, Dari Salman Kemudian Terabaikan”, Adian Husaini menyorot tentang Sejarah Islamisasi Ilmu di Indonesia dan Tujuan Pencapaian Ilmu.
Ide islamisasi ilmu di Indonesia bisa dimulai gaungnya dari ITB dengan terbitnya buku Islam dan Sekularisme karya Prof Naquib Alattas, Islamisasi Pengetahuan karya Prof Ismail Raji al-Faruqi dan Islam di Simpang Jalan karya Mohammad Assad.
Adian menjelaskan ide islamisasi ilmu ini kurang berkembang sehingga hadirnya Professor Wan Mohd Nur Wan Daud ke ITB, UMY, UGM (Yogyakarta), Unpad dan UI guna menjelaskan berbagai hal tentang islamisasi ilmu. Dalam roadshow nya ke berbagai perguruan tinggi itu, Prof Wan menjelaskan bahayanya jika ilmu dipisahkan dari Tuhan (Islam).
Penandatanganan (MoU) antara INSISTS dan Republika ditandatangani Hari Rabu (4/3/2009) antara Direktur Eksekutif INSITS, Adnin Armas dan pihak Koran Republika.
Sebelumnya INSISTS juga telah menerbitkan jurnal edisi majalah dengan nama yang sama. Penanggungjawab ISLAMIA, Nuim Hidayat mengatakan, ada perbedaan antara jurnal edisi Koran dan edisi majalah tiga bulanan.
“Kalau yang kerjasama dengan Republika ini lebih diperuntukkan pembaca Koran. Sedang jika yang edisi tiga bulanan itu lebih serius, “ katanya kepada www.hidayatullah.com.
Menurut Nuim, meski sementara ini masih ditulis oleh tim INSISTS, jurnal yang berisikan tentang pemikiran Islam ini juga menerima tulisan dari pihak luar. “Kami juga menerima tulisan dari para pembaca yang ingin berpartisipasi, “ tambah Nuim.
Sampai hari ini, INSIST sudah berusia sekitar 6 tahun, dari kelahirannya tahun 2003. Lembaga ini lahir dari diskusi para pemikir muda Islam Indonesia di Malaysia. Di antara mereka ada yang mengajar di Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah-Universitas Indonesia, Pascasarjana, dan Universitas Muhammadiyah- Solo, Pascasarjana Ibnu Khaldun-Bogor.
