“Religulous”, Film Agama yang Berwajah Satire

Muslimin
By -
0
Sutradara Amerika Serikat (AS) mengeluarkan film yang dijangka akan melahirkan kontroversi. Berjuluk ‘agama’ tapi isinya sindiran

Sekalipun belum diputar di Inggris, film dokumenter bertajuk Religulous Religulousmenyindir semua agama di dunia, tidak terkecuali agama Islam. Tak heran, bila banyak warga Inggris terkejut dengan film itu hingga memicu debat tentang munculnya tren anti-agama belakangan ini.

"Saya melihatnya di Amerika dan ironisnya, film ini cenderung sangat fundamentalis," ujar Jonny Baker, yang bekerja untuk Masyarakat Misi Gereja Anglikan Inggris.

Film dokumenter ini ditulis dan dibintangi oleh komedian politik Amerika, Bill Maher. Pekan depan, orang Inggris mulai bisa menikmati film satire ini di bioskop.

Menurut sutradaranya, judul film ini singkatan yang diambil dari kata 'religion' (agama) dan 'ridiculous' (menertawakan). Judul ini memiliki makna menyindir agama dan keyakinan beragama. Film ini bercerita tentang Maher yang menghadapi berbagai agama melalui wawancara dengan para pemimpin agama dan mereka tak mampu menjawab pertanyaannya yang cenderung 'kurang ajar'.

Dalam film itu, Maher pergi ke berbagai tempat agama berasal, seperti Yerusalem, Vatikan, dan Salt Lake City, untuk mewawancarai para penganut agama dengan berbagai latar belakang dan berbagai kelompok tentang 'kemustahilan' agama. Gambar depan film ini bergambar tiga monyet yang memakai pakaian keagamaan dan lambang khas setiap agama, termasuk pula monyet yang memakai kalung bergambar bulan sabit, ciri khas Islam.

Sebelum sempat beredar di sejumlah bioskop, film ini sudah menunai kritik dari umat Kristen di Inggris.

Baker sendiri termasuk orang yang telah menonton film itu. Menurutnya, sutradara Religulous adalah contoh orang yang fanatik dan tidak toleran terhadap diri sendiri.

"Bill Maher hanya suka berteriak-teriak di depan kamera dan hal itu justru mengurangi nilai keseluruhan film," ujarnya.

Film ini juga memicu perdebatan sengit di kalangan pemuka agama dan pemikir tentang meningkatnya tren anti-agama, bukan hanya di atas layar perak.

"Para ateis hanya berkata 'tutup mulut'. Apa yang kita lihat adalah agama berada di bawah tekanan dan dikalahkan," ujar AC Grayling, profesor filosofi di Birkbeck College, London.

Menurut Grayling, film ini bagian dari respon kaum ateis atas meningkatnya 'kegaduhan' agama sejak serangan 11 September 2001 di AS.

"Terjadi peningkatan suara gaduh dari berbagai agama sejak tragedi itu. Dan kami melihat reaksi dari para ateis. Mereka berdiri dan dihitung karena mereka tidak menyukainya," jelasnya.

Bagi Baker, tren anti-agama di media massa dan di jalur kehidupan lain jelas melukai hati para penganut agama, tidak terkecuali umat Islam.

"Orang Afrika menganggap bahwa kami, orang Barat, adalah orang-orang yang tidak beragama," ujar Baker. Namun ia percaya bahwa serangan dari para ateis tidak akan pernah sukses.

"Agama itu penting. Orang-orang lebih tertarik pada kehidupan ketimbang hanya berbelanja saja," ujarnya.

Atheis

Maher dilahirkan di New York City. Bapaknya adalah seorang redaktur berita dan penyiar radio. Maher dibesarkan dari agama Katolik dan tidak mengetahui bahwa ibunya Yahudi sampainya usia belasan tahun. Di masa dewasa ia menekuni pelawak dan aktor.

Maher dikenal tokoh pengkritik agama. Ia pernah menggambarkan agama sebagai neurological disorder, sejenis penyakit syarat. Dia juga pernah mengatakan, agama adalah penyebab banyak masalah pada masyarakat dan malahirkan kemunafikan.[adm/hidayatullah]
Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*