Bagi sebuah lembaga besar baik organisasi maupun instansi, pandemi jelas memberikan dampak buruk terhadap keberadaan sebuah lembaga. Segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan masyarakat terganggu sehingga perjalanan tatanan kehidupannya tentu sedikit bergeser. Maka situasi ini menjadi penting bagi seluruh humas di sebuah lembaga untuk tetap mampu mempertahankan eksistensi lembaganya meski tengah dilanda pandemi. Humas atau public relations menjadi kunci sebuah lembaga di masa pandemi untuk dapat menunjukkan kapabilitasnya.
“Dalam situasi pandemi, jika berbicara tentang branding kita tidak bisa
stop sampai disini. Apapun kegiatan kehumasan harus terus berjalan
bahkan harus lebih kreatif lagi” ujar Aswad Ishak, selaku Ketua Perhumas
BPC Yogyakarta yang juga seorang Dosen Ilmu Komunikasi UMY.
Dalam hal ini seorang humas menjadi tombak utama bagi lembaga untuk
tetap mempertahankan eksistensinya di hadapan masyarakat, tentunya dalam
aspek.
“Apa yang bisa diberikan oleh lembaga kepada masyarakat di masa
pandemic, sehingga masyarakat tetap memiliki kepercayaan kepada lembaga
tersebut,” terangnya.
Berbagai polemik terjadi antara lembaga dengan masyarakat akibat adanya
pandemi. Seperti dalam perguruan tinggi, beberapa waktu lalu terjadi
isu permohonan penurunan biaya kuliah yang dianggap cukup mahal padahal
kuliah dilakukan secara daring. Hal ini dikeluhkan berdasarkan
perspektif mahasiswa dan perspektif perguruan itu sendiri. Pasalnya baik
mahasiswa maupun perguruan tinggi mempertanyakan kesanggupan kampus,
apakah kampus dapat bertahan dimasa pandemi dan apakah ekonomi serta
budaya mahasiswa mampu bersanding menjalani perkuliahan di masa krisis.
Maka humas berkewajiban untuk memberikan penjelasan kepada khalayak
secara jelas.
Rudianto, selaku Rektor sekaligus Dosen Ilmu Komunikasi Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menyampaikan bahwa di masa pandemi
ini akan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh humas, seperti
informasi yang melimpah yang menyulitkan masyarakat dalam mendapatkan
informasi valid. Kemudian perubahan yang datang secara tiba - tiba dan
mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat, sehingga ini dapat
menghabiskan energi humas untuk melakukan upaya - upaya strategis.
“Paling tidak humas harus bisa menyampaikan kepada publik baik internal
atau pun eksternal untuk menjelaskan kemampuan instansi menghadapi
pandemi,” ungkapnya.
Dalam hal ini reputasi sebuah lembaga harus dijunjung tinggi dimana
perencanaan komunikasi yang baik merupakan sebuah kunci. Perencanaan
pola komunikasi di masa kritis yang sesuai dengan kondisi khalayak
sehingga lembaga dapat menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat
saat ini. Selain itu, mengoptimalkan engagement media sosial di berbagai
platform juga menjadi sebuah pintasan terkini bagi humas agar dapat
menggandeng masyarakat ke dalam jangkauannya.
Sumber : Muhammadiyah.or.id

