KABUL -- Pemimpin tertinggi Taliban, Haibatullah Akhunzada meminta masyarakat internasional untuk mengakui Islamic Emirate of Afghanistan. Akhunzada menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah pesan menjelang liburan Idul Fitri.
“Afghanistan memiliki peran dalam perdamaian dan
stabilitas dunia. Sesuai dengan kebutuhan ini, dunia harus mengakui
Islamic Emirate of Afghanistan,” kata Akhunzada, dilansir Aljazirah,
Jumat (29/4).
Akhunzada mengatakan, dunia telah menjadi "desa kecil"
dan hubungan diplomatik yang baik akan membantu memecahkan masalah
negara. Dalam pidatonya, Akhunzada tidak menyebutkan tuntutan
internasional terhadap Taliban, termasuk membuka kembali sekolah
menengah untuk anak perempuan dan pemerintah inklusif. Sebaliknya, dia
mengatakan bahwa pengakuan harus didahulukan.
"Pengakuan harus didahulukan agar kita dapat mengatasi
masalah kita secara formal dan dalam norma dan prinsip diplomatik," ujar
Akhunzada.
Pesan Idul Fitri Akhunzada bertepatan ketika
Afghanistan diguncang oleh serangkaian ledakan bom terbaru yang
menargetkan komunitas minoritas Syiah Hazara. Kelompok ISIS mengklaim
bertanggung jawab atas ledakan tersebut.
Dalam pidatonya, Akhunzada tidak menyinggung peristiwa
pemboman tersebut. Dia mengatakan, Islamic Emirate of Afghanistan telah
mampu membangun tentara Islam dan nasional, serta organisasi intelijen
yang kuat.
Banyak komunitas internasional menginginkan bantuan dan
pengakuan kemanusiaan yang terkait dengan pemulihan hak-hak perempuan.
Puluhan ribu wanita kehilangan pekerjaan Taliban berkuasa. Kaum
perempuan juga dilarang meninggalkan Afghanistan atau bahkan bepergian
antar kota, kecuali ditemani oleh kerabat laki-laki atau mahrom.
Pada Maret, Taliban memicu kemarahan global dengan
menutup semua sekolah menengah untuk anak perempuan. Terkait hal
tersebut, Akhunzada mengatakan, pihak berwenang membuka pusat dan
madrasah baru untuk pendidikan agama dan modern.
"Kami menghormati dan berkomitmen untuk semua hak
Syariah pria dan wanita di Afghanistan, jangan gunakan masalah
kemanusiaan dan emosional ini sebagai alat untuk tujuan politik," kata
Akhunzada.
Akhunzada juga mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk
mengusung kebebasan berbicara sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun
fakta di lapangan menyatakan, ratusan outlet berita telah ditutup.
Taliban juga melarang siaran musik publik, film, dan drama televisi
yang menampilkan wanita.
Akhunzada, diyakini berusia 70-an, telah menjadi
pemimpin spiritual Taliban sejak 2016. Dia menggantikan Mullah Akhtar
Mansoor, yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Pakistan.
Sebelumnya pada Januari, penjabat Perdana Menteri
Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban, Hasan Akhund, meminta
masyarakat internasional untuk secara resmi mengakui Islamic Emirate of
Afghanistan, karena Taliban telah berusaha untuk mengakhiri isolasi
diplomatik.
Taliban kembali menguasai Afghanistan pada Agustus tahun
lalu, setelah pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS) meninggalkan Kabul.
Taliban telah menjanjikan hak-hak perempuan dan kebebasan media sehari
setelah kembali berkuasa.
Taliban telah menghadapi kritik, karena memperkenalkan
kembali aturan garis keras yang semakin mengucilkan perempuan dari
kehidupan publik. Talinan juga dituduh melakukan pelanggaran hak asasi
manusia.
Amerika Serikat bersama dengan negara-negara Barat telah
membekukan aset perbankan Afghanistan senilai miliaran dolar. Mereka
juga memotong bantuan telah menyebabkan ekonomi Afghanistan runtuh.
Lebih dari 90 persen warga Afghanistan menderita kekurangan makanan. []
Sumber: Republika
