Gencatan Senjata Yaman Diperpanjang Dua Bulan

Redaksi
By -
0

KAIRO -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada Kamis (2/6/2022), pihak-pihak yang bertikai di Yaman telah sepakat untuk memperbarui gencatan senjata nasional selama dua bulan lagi. Gencatan senjata antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan pemberontak Houthi yang didukung Iran pada awalnya mulai berlaku pada 2 April.    

Pengumuman tersebut datang hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata pertama ditetapkan berakhir pada Kamis. "Gencatan senjata mewakili perubahan signifikan dalam lintasan perang dan telah dicapai melalui pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan berani oleh para pihak,” kata Utusan Khusus PBB untuk Yaman Hans Grundberg dalam sebuah pernyataan.

Grundberg mengatakan, akan menengahi antara pihak-pihak yang bertikai untuk memperkuat gencatan senjata baru. PBB akan mencoba untuk mendorong dalam mencapai penyelesaian politik untuk mengakhiri konflik yang sudah berjalan selama delapan tahun itu.

Ketentuan dari gencatan senjata pertama termasuk membuka kembali jalan di sekitar kota Taiz yang terkepung, membangun dua penerbangan komersial seminggu antara Sanaa dan Yordania dengan Mesir. Kemudian mengizinkan 18 kapal yang membawa bahan bakar ke pelabuhan Hodeida. Baik Sanaa dan Hodeida dikendalikan oleh Houthi.

Menurut kantor berita yang dikelola pemerintah SABA pada Kamis, dewan kepresidenan pemerintah Yaman menyatakan dukungannya untuk upaya utusan PBB. Pemerintah Yaman ini menegaskan kembali bahwa Houthi harus diminta untuk membuka kembali jalan di sekitar Taiz.

Dalam sebuah pernyataan, Kepala Dewan Politik Tertinggi Houthi yang mengelola daerah-daerah yang dikuasai Mahdi al-Mashat mengatakan, Houthi memutuskan untuk merespon secara positif desakan utusan PBB untuk memperbarui gencatan senjata. Tindakan ini untuk mengurangi penderitaan rakyat Yaman dan memberikan lebih banyak waktu untuk pelaksanaan semua ketentuan yang termasuk dalam perjanjian gencatan senjata asli.

Dalam beberapa minggu terakhir, penerbangan komersial telah dimulai kembali dari Sanaa dan pengiriman bahan bakar telah tiba. Namun, pembukaan jalan di sekitar Taiz tetap menjadi masalah yang diperebutkan dan kedua belah pihak belum menyepakati kerangka kerja untuk mencabut blokade di kota utama tersebut.

Pertempuran, serangan udara, dan pemboman telah mereda sejak gencatan senjata pertama kali dimulai. Houthi telah menghentikan serangan lintas perbatasan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dua pilar koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyambut baik perkembangan tersebut dan menekankan bahwa mengakhiri perang di Yaman telah menjadi prioritas pemerintahannya. Biden juga memuji pemerintah Arab Saudi karena sudah mencerminkan kepemimpinan yang berani dalam mendukung dan menerapkan gencatan senjata yang dipimpin oleh PBB.

"Saya mendesak semua pihak untuk bergerak cepat menuju proses perdamaian yang komprehensif dan inklusif. Diplomasi kami tidak akan berhenti sampai ada penyelesaian permanen," katanya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, bahwa dukungan regional dan internasional akan tetap penting untuk kelanjutan dan keberhasilan implementasi gencatan senjata. Kepala dari Dewan Kerjasama Teluk (GCC) Nayef al-Hajraf juga menyambut baik perpanjangan gencatan senjata. Dia mengungkapkan harapannya akan kondusif bagi perdamaian yang komprehensif.

Kelompok yang berbasis di Arab Saudi ini mewakili Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan UEA ini membuat kebijakan ekonomi untuk blok tersebut. Aturan tersebut berfungsi sebagai penyeimbang Arab yang dipimpin Sunni terhadap kekuatan Syiah Iran.

Pertempuran di Yaman meletus pada tahun 2014, ketika Houthi turun dari wilayah kantung di utara dan mengambil alih ibu kota Sanaa, memaksa pemerintah yang diakui secara internasional untuk melarikan diri ke pengasingan di Arab Saudi. Koalisi yang dipimpin Saudi memasuki perang pada awal 2015 untuk mencoba mengembalikan pemerintah ke tampuk kekuasaan.

Konflik yang akhirnya berubah menjadi perang proksi antara Arab Saudi dan Iran ini telah menewaskan lebih dari 150.000 orang, termasuk lebih dari 14.500 warga sipil. Konflik ini menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, mendorong jutaan orang Yaman ke ambang kelaparan.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric sebelumnya mengatakan, kebutuhan kemanusiaan Yaman tetap tinggi meskipun ada perbaikan sejak gencatan senjata. Sekitar 19 juta orang diperkirakan menghadapi kelaparan tahun ini, termasuk lebih dari 160.000 yang akan menghadapi kondisi seperti kelaparan.

"Lembaga bantuan membutuhkan 4,28 miliar dolar AS untuk membantu 17,3 juta orang di seluruh negeri tahun ini,” katanya.

Tapi, menurut Dujarric, hanya 26 persen dari jumlah itu yang telah didanai. Dia mendesak para donor untuk menjanjikan uang dan mengubah janji menjadi uang tunai. []

Sumber: Republika

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*