Salman Rushdie Lepas Ventilator

Pebisnis
By -
0

 


NEW YORK -- Penulis buku kontroversial, Salman Rushdie (75 tahun), telah dilepas dari ventilator dan dapat berbicara. Rushdie ditikam pada Jumat (12/8) saat ia bersiap untuk memberikan kuliah umum di New York, Amerika Serikat.

Ia dirawat di rumah sakit dengan cedera serius. "Dia (Rushdie) sudah tidak menggunakan ventilator dan bisa berbicara (dan bercanda)," ujar rekan Rushdie, Aatish Taseer dalam cicitannya di Twitter pada Sabtu (13/8).

Agen Rushdie, Andrew Wylie, membenarkan informasi itu tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pada Jumat pekan lalu, seorang pria yang diidentifikasi sebagai Hadi Matar dari New Jersey menyerang Rushdie dengan menusuknya. Penusukan terjadi ketika Rushdie berada di atas panggung dan bersiap memberikan kuliah umum di Chautauqua Institution.

Pelaku mengaku tidak bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyerangan. Jaksa menyebut serangan itu sebagai kejahatan "terencana". Seorang pengacara untuk tersangka mengajukan pembelaan atas namanya selama dakwaan di New York barat. 

Seorang hakim memerintahkan agar Matar ditahan tanpa jaminan. Perintah ini berlaku setelah Jaksa Wilayah Jason Schmidt mengatakan, Matar dengan sengaja menempatkan dirinya dalam posisi untuk menyakiti Rushdie. Matar bisa mendapatkan izin untuk mengikuti kuliah umum dengan identitas palsu.

“Ini adalah serangan yang ditargetkan, tidak diprovokasi, dan direncanakan sebelumnya terhadap Rushdie,” kata Schmidt, dilansir Aljazirah, Ahad (14/8).

Rushdie ditikam sebanyak sepuluh kali. Novelis itu menderita kerusakan hati dan saraf yang terputus di lengan dan matanya. Dia kemungkinan besar akan kehilangan salah satu matanya. Otoritas lokal maupun federal tidak memberikan rincian tambahan tentang penyelidikan.

Selama lebih dari 30 tahun Rushdie menghadapi ancaman pembunuhan. Pencetusnya karena ia menulis buku kontroversial berjudul “The Satanic Verses” atau "Ayat-Ayat Setan". 

Penusukan itu menuai kecaman dari penulis dan politisi di seluruh dunia. Mereka menyebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan berekspresi. 

Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, Presiden Amerika Serikat Joe Biden memuji “cita-cita universal” yang diwujudkan oleh Rushdie dan karyanya. "Kebenaran. Keberanian. Ketangguhan. Kemampuan untuk berbagi ide tanpa rasa takut. Ini adalah blok bangunan dari setiap masyarakat yang bebas dan terbuka," ujar Biden.

Prosa surealis

Rushdie adalah novelis pria kelahiran India. Dia kemudian tinggal di Inggris dan Amerika Serikat. Rushdie dikenal memiliki gaya prosa surealis dan satirnya. Novel karya Rushdie, Midnight's Children, memenangkan Booker Prize 1981.

Kemudian Rushdie menerbitkan bukunya yang berjudul The Satanic Verses pada 1988. Buku tersebut memuat penghinaan terhadap Nabi Muhammad, sehingga menyebabkan kecaman. 

Buku Rushdie telah dilarang dan dibakar di India, Pakistan, dan wilayah lainnya. Pada 1989 pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengeluarkan sayembara berhadiah kepada siapapun yang dapat membunuh Rushdie.

Khomeini kemudian meninggal pada tahun yang sama, tetapi dekrit tersebut tetap berlaku. Pengganti Khomeini, Ayatollah Ali Khamenei, pada 2019 mengatakan, sayembara itu “tidak dapat dibatalkan”.

Namun, tak semua warga Iran setuju dengan fatwa tersebut. Dalam penusukan kali ini, sejumlah warga Iran menyampaikan simpati kepada Rushdie. Mereka juga mengecam dan menunjukkan kemarahan pada fatwa Khomeini.

"Melalui fatwa, rezim Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap Salman Rushdie. Serangan ini tidak hanya mencederai kebebasan berbicara, namun juga menunjukkan bagaimana diktator memperluas jangkauan mereka ke seluruh dunia untuk melawan keamanan," cicit warga Iran yang diidentifikasi sebagai Behrouz Boochani.[]

Sumber: Republika

 

 

 

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*