Lahan Pemakaman Menipis di Turki dan Suriah

Pebisnis
By -
0

 


ANKARA -- Korban jiwa gempa bumi di Turki dan Suriah yang terjadi pada Senin (6/2) mulai menimbulkan masalah pemakaman. Sejumlah area pemakaman penuh terisi.

Hingga kemarin, total korban meninggal akibat gempa di Turki selatan dan barat laut Suriah pada Senin (6/2) lalu mencapai 21 ribu jiwa. Ratusan ribu orang lagi kehilangan tempat tinggal dan kekurangan makanan dalam kondisi musim dingin yang suram. 

Demikian banyaknya jumlah korban jiwa, sejumlah area pemakaman mulai penuh terisi. Di antaranya lahan di pemakaman Nurdağı di Provinsi Gaziantep, Turki yang berbatasan dengan Suriah. Tidak akan ada lagi ruang untuk menguburkan korban tewas akibat gempa dahsyat yang melanda Turki dan Suriah pada awal pekan ini.

Kuburan yang baru digali ditandai dengan potongan kain robek yang dikumpulkan dari pakaian korban untuk mengidentifikasi mereka. Puluhan jenazah bertumpuk di atas deretan truk pikap, dan menunggu untuk dikuburkan. 

Setidaknya lima imam telah bergegas ke Nurdağı untuk melakukan prosesi pemakaman massal tanpa henti. Terkadang para imam memimpin prosesi pemakaman untuk 10 korban sekaligus.

Pejabat membawa pengiriman peti mati dari desa-desa tetangga untuk menyediakan tempat peristirahatan terakhir bagi para korban. “Empat puluh persen orang yang tinggal di kota ini bisa hilang,” kata Sadık Güneş, seorang imam di Nurdağı, dilaporkan the Guardian, Jumat (10/2/). 

Rumah Güneş berada di sebelah masjid yang runtuh. Karena tidak ada masjid, shalat jenazah secara massal di Nurdağı dan bagian selatan Turki lainnya dilakukan di luar ruangan.

“Saya sudah kehilangan hitungan berapa jenazah yang telah kami kubur sejak Senin. Kami memperluas pemakaman dan masih ada orang (yang terjebak) di bawah puing-puing. Kami menguburkan jenazah hingga larut malam dengan bantuan warga," kata Güneş.

Sambil menunggu kedatangan dokter forensik, penduduk di beberapa kota di Turki telah menumpuk jenazah di stadion atau di tempat parkir. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada kerabat mengidentifikasi orang yang mereka cintai sebelum akta kematian dikeluarkan.

Di distrik Afrin di timur laut Suriah, sebuah pemakaman telah diperluas dengan situs pemakaman massal darurat.  Di Kota Osmaniye, Turki selatan, sebuah kuburan kehabisan ruang.

Sedangkan, di luar Kahramanmaras, dekat episentrum gempa, sebuah kuburan darurat dipenuhi dengan begitu banyak jenazah, sehingga papan kayu dan balok beton yang dikumpulkan dari puing-puing harus berfungsi sebagai batu nisan. 

Di seberang Suriah utara, para pengungsi yang tinggal di tenda penampungan di tengah salju mulai membakar apapun agar tubuh mereka tetap hangat. Sementara bantuan makanan dan kebutuhan pokok lainnya masih langka.

“Dunia telah melupakan kami. Kami punya cukup makanan untuk bertahan sebentar. Tapi kami hanya memiliki sedikit kayu yang kami bakar hanya beberapa jam sehari untuk bertahan agar tetap hangat. Entah bagaimana kita dibiarkan menghadapi situasi ini sendirian," kata seorang korban selamat Mohammed Abu Hamza yang pengungsi bersama keluarganya. []

Sumber: Republika

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*